Puing – Puing Cinta

Bulan : meluruhkan selebung kabut diatas kebun-kebun kota matahari dan kesunyian menyapu kejadian. kerajan   pecundang melihat ancaman laksana menghadapi monster yang mencemooh.  Pada saat itu bagai kepulan asap yang muncul dari birunya danau,duduk pada sebuah pilar pualam memenungkan pemandangan,laksana alam gaib. Salah satunya mendongakkan kepala dan dengan suara berkumandang yang menggema ia berkata :

” Inilah bekas kuil-kuil yang kubangun untuk anakku, kekasihku, dan inilah reruntuhannya kerajaanya yang ku dirikan untuk kebahagiannmu. Cukup sudah sisa-sisa itu untuk mengenali sebuah bangsa, tempat ku

Iklan

Desember 2, 2009. Uncategorized.

Tinggalkan sebuah Komentar

Be the first to comment!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback URI

%d blogger menyukai ini: